Senin, 24 Juni 2013

# sudut pandang

TENTANG SIM – CATATAN HITAM DI JALANAN

Berbekal selembar fotokopi KTP Fenny mengantri didepan ruang foto para pembuat SIM di Kapolres. Bertanyalah Fenny pada kakak perempuan, “Nanti disuruh kayak gitu mbak”, sembari jari menunjuk lapangan tempat tes yang dibuat berliku-liku penuh halang rintang. “Enggak sayang, setelah foto dan isi data, SIM adek langsung jadi”, jawab kakak sambil tersenyum.

Tibalah giliran Fenny untuk di foto. “Jepreeet !!!”, kamera Pak Polisi yang masih mengunakan film itu beraksi sebelum Fenny sempat mengukir senyum manis *fiuuuh*. Sambil manyun, Fenny menyerahkan KTP dan keluar. Kakak perempuan menyambut didepan pintu dan menggandeng Fenny menuju salah satu ruang petinggi di Kapolres.

Berdasarkan arah percakapan diketahui kalau Fenny mendapatkan SIM dengan cara “belakang”. Bedanya, jika yang lain harus merelakan berlembar-lembar ribuan tapi Fenny gratis :D Usut punya usut petinggi itu bawahan dari orang terdekat kakak perempuan Fenny *uhuuuk

Itu adalah cerita 7 tahun yang lalu…

Meski mengantongi SIM, tidak membuat Fenny terbebas dari tangkapan Polantas. Semasa kuliah, Fenny pernah melanggar marka jalan dan mendapat panggilan “cinta” dari peluit pak polisi. Apes…SIM dan STNK ketinggalan. Bermodalkan rayuan dan bantuan telfon dari ibu, Fenny berusaha meyakinkan pak polisi yang kebetulan masih muda kalau surat-suratnya benar-benar ketinggalan dan tidak tahu aturan marka yang berlaku. Bisa jadi pak polisi merasa kasihan dengan mahasiswa imut-imut yang kala itu membawa satu set komputer meja yang nangkring di jok motor hingga tawaran diantar sampai kos pun datang plus bebas hukuman *yeay…yeay…#janganDITIRU :D

Selang 5 tahun sejak SIM ditangan, paling sering “setor” pada Polantas karena SIM sudah kadaluarsa. Sering ditilang ternyata tidak membuat Fenny semangat mengurus perpanjangan SIM. Sampai pada akhirnya…

Peluit pak polisi kembali menghentikan laju motor Fenny. Awalnya hanya karena Fenny lupa menyalakan lampu “jalan” dan ketika diminta mengeluarkan surat-surat alhasil ketahuan SIM Fenny sudah mati. Sambil nyengir kuda, Fenny minta surat tilang. Sekali-kali ikut sidang :D

Entah kenapa, Fenny agak malas saat jadwal sidang. Hasilnya…SIM & STNK yang seharusnya diambil di Pengadilan jadi berpindah ke Kejaksaan. Saat di Pengadilan, Fenny sempat memotret situasi sidang. Cepat dan tidak berbelit-belit. Hanya ditanyakan pelanggaran yang dilakukan dan membayar denda. Tidak jauh berbeda ketika “sidang” di jalanan.

Proses di Kejaksaan pun lebih cepat. Hanya dengan menunjukkan surat tilang, membayar denda dan SIM/STNK diberikan. Denda yang Fenny bayarkan lebih sedikit dibanding yang diminta di tempat kejadian.

Selisih nominal “hemat” memang tidak seberapa akan tetapi Fenny cukup puas mengetahui proses sidang pelanggaran lalu lintas *duuuh…jadi berasa bukan warga negara yang baik dikelas jalanan :D Sepulang dari Kejaksaan dan SIM plus STNK sudah kembali ke pangkuan, sempat berikrar akan segera perpanjang SIM. Kalau diceritakan ternyata catatan hitam Fenny di jalanan lumayan banyak, cukup sudah. Sekian cerita Fenny *dadah dadah sambil melaju ke Jogjakarta dengan SIM kadaluarsa, hihi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)

Follow Us @soratemplates