Senin, 14 April 2014

Ikhlasku pada Suami

Fenny dan suami adalah pasangan yang tertaut usia cukup jauh. Beda usia diantara kamu berdua sekitar sebelas tahun. Beda usia yang sering kali membuat banyak orang berucap, “WOW” meski tidak sampai koprol. Jika mereka bertanya alasan Fenny menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua, Fenny menjawab dengan santai, “Supaya Fenny bisa lebih diatur. Fenny sifatnya keras. Setidaknya kalau dengan orang yang terpaut usia jauh, Fenny jadi lebih sungkan dong kalau mau ngotot bin ngeyel”. Jawaban yang terdengar konyol tapi memang itu yang menjadi salah satu alasan kuat Fenny menerima pinangan laki-laki yang melamar Fenny tersebut.

sumber gambar: www.kisahwanita.com

Kenyataannya memang tidak selalu seperti harapan Fenny. Sifat Fenny yang cenderung Perfeksionis Melankolis sangat bertolak belakang dengan sifat suami yang Sangunis Koleris. Di satu sisi maunya serba tepat waktu dan gampang ngambek, sedangkan sisi lain cenderung fleksibel dan kepemimpinannya kuat. Seringkali jadwal yang Fenny susun berubah total bahkan gagal kalau sudah tidak sesuai dengan jadwal dan mood suami. Drama pun berakhir dengan istri yang nangis tersedu-sedu dan suami yang melanjutkan aktivitas tanpa merasa bersalah.

Jika ditelisik memahami alasan suami yang seringkali terucap, “Lebih baik aku telat tapi berangkat dalam kondisi fit daripada berangkat tepat waktu tapi kondisinya ngantuk/capek. KESELAMATAN ITU LEBIH PENTING”. Bukan suatu pembenaran yang tepat dalam kerangka pemikiran Fenny meski ada benarnya pernyataan tersebut. Awalnya Fenny akan berargumen dan menyarankan untuk bersiap lebih awal jika hendak bepergian baik pergi sendiri atau pun berdua. Fenny pun dengan senang hati mengingatkan jadwal. Sayangnya tidak hampir tidak pernah berhasil saudara-saudara.

Ketika Fenny sudah menyerah dan tak sanggup lagi menangis, suami mendekati Fenny dan menguraikan kembali alasannya. Suami mengingatkan Fenny tentang keburukan yang terjadi jika tidak mengindahkan suami. Seringkali Fenny memang memilih berangkat pergi sendiri dan meninggalkan suami jika sudah tidak tahan. Akibatnya Fenny pun sering mengalami hal-hal yang semakin membuat tidak nyaman bahkan cenderung membahayakan. Suami meyakinkan jika mau berkompromi dengannya, Fenny akan mendapatkan lebih banyak kemudahan yang tidak terfikirkan sebelumnya. Terlepas dari paham yang diyakini para Muslim, “Ridho Allah ada pada ridho suami”, memulai segala sesuatu tanpa dibebani emosi dan ketergesaan memang lebih mendatangkan kebaikan.

Kalau sekedar mengedepankan siapa yang salah dan salah siapa tidak akan membuat problematika rumah tangga berkurang dan menuju keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Suatu ketika Fenny mendapat pencerahan setalah membaca buku tentang kepribadian dimana salah satu bab membahas tentang pemahaman sifat suami istri. Perlu toleransi yang harus disepakati bersama jika tidak ingin terjadi drama bak telenovela setiap harinya.

Fenny pun belajar ikhlas terhadap suami meski beresiko terlambat dan terkadang harus siap menerima cemoohan dari keluarga atau orang-orang di sekitar. Membuka telinga lebih lebar supaya cemoohan bisa masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa sempat bercokol di pikiran dan hati. Hati rasanya lebih damai dan sanggup menebalkan muka.Rupanya usaha Fenny mengikhlaskan menerima semua resiko untuk mendapatkan banyak kemudahan setelah mengikuti kemauan suami berujung kebaikan. Fenny melihat suami berusaha keras untuk mengendalikan ego. Suami sebenarnya juga tidak ingin Fenny datang terlambat dan dicemooh. Fenny jadi lebih bisa melihat kebaikan suami yang sebelumnya tertutupi dan bersyukur karenanya.

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)