Senin, 23 November 2015

ASUS Zenfone 2 Laser: Penulis kok Buram?

“Ketika teknologi telah melekat di kehidupanmu, seberapa besar ia membantumu?” – Fenny Ferawati –
Email itu berisi sebuah pesan singkat saja. Namun dengan membacanya cukup membuat Fenny sejenak mengecil karena membayangkan konsekuensinya. Email dari editor buku. Editor buku travelling perdana Fenny.

“Dear Fenny, kualitas foto tidak memenuhi standar. Semua buram. Minimal resolusinya 1200 x 800 pixel. Mohon dikirimkan ulang ya”

Jika saja ada alat yang mengubah kualitas dan ukuran gambar yang Fenny punya menjadi seperti yang diinginkan editor, tentu Fenny tak ambil pusing. Sayangnya kantong Doraemon yang ajaib yang bisa mengeluarkan alat-alat ajaib itu hanya khayalan. Mau tak mau, Fenny harus mengulang jejalah museum di Solo seharian penuh. Dengan kandungan yang makin berusia tua, terbayang dong betapa payahnya Fenny saat itu.

Tak disangka kamera smartphone suami bisa menghasilkan gambar yang sesuai permintaan editor. Bahkan kualitas gambarnya jernih meski kondisi low light. Maklum kalau di museum terkadang pencahayaanya tidak memadai. Bahkan di museum batik sengaja diberi pencahayaan minimalis karena cahaya terang bisa merusak batik. Setelah penemuan itu, Fenny jadi sering “ngrusuhi” smartphone suami. Walhasil phone storage smartphone suami jadi penuh dokumentasi kegiatan Fenny. Belum lagi aktivitas suami bersmartphone ria jadi terganggu. Tammbah manyun deh suami. Asyiik, bisa jadi ide pengajuan anggaran smartphone baru neh.

Sayangnya smartphone dengan spesifikasi sama dengan milik suami tidak lagi dijual versi barunya. Duh, patah hati deh. Karena kebutuhan smartphone dengan spesifikasi kamera yang menghasilkan kualitas gambar yang tidak buram makin mendesak, mulai lah Fenny melakukan pencarian.

Salah seorang teman blogger memamerkan hasil foto selfienya dengan Asus Zenfone 2 Laser sepulang dari acara Asus Zenfestival berhasil memikat Fenny. Spontan Fenny mengajukan Asus Zenfone 2 Laser untuk incaran baru. Bukan suami Fenny namanya kalau langsung ACC. Oke deh kita ngulik lebih detail si smartphone desain premium dengan harga mainstream ini.

Kriteria pertama yang dikulik suami adalah spesifikasi smartphone. Ketika Fenny dengan girang mengutarakan kamera Asus Zenfone 2 Laser 13 MP, suami langsung mematahkan dengan statement, “Percuma megapixelnya besar kalau tidak ada auto focus. Gambarnya tetap buram”. 

Duh, suami kayaknya perlu langsung diajak unboxing deh. Asus Zenfone 2 Laser khan sudah menggunakan kamera utama dengan resolusi 13MP dengan lensa f/2.0 aperture yang mampu mengambil foto dengan resolusi 4128 x 3096pixel. Dengan dukungan zero shutter lag, tidak perlu khawatir akan kehilangan momen berharga yang umumnya berlangsung sangat cepat.


Yang paling wajib ada neh menurut suami, kamera tersebut diperkuat fitur Laser Auto Focus. Teknologi fokus dengan laser ini dapat mempercepat pencarian fokus terhadap obyek foto, baik jarak dekat ataupun jarak jauh, hingga 0,03 detik. Hasilnya, kamera dapat mengambil foto yang lebih fokus dengan cepat dibandingkan sistem fokus biasa. Fitur fokus laser ini juga sangat membantu mendapatkan fokus dengan cepat dan tepat, misalnya saat memotret dalam kondisi kurang cahaya. Nah, pas banget khan dengan aktivitas Fenny yang sebagian besar di dalam ruangan saat menghadiri undangan sebagai blogger maupun pembicara.

Puas nunjukin keunggulan smartphone desain premium harga mainstream ini, suami menunjukkan tanda-tanda positif. Fenny sudah harap-harap cemas menunggu keputusan suami. Dan akhirnya …

“Oke deh beli. Nanti ASUS Zenfone 2 Laser-nya aku pakai, kamu pakai ini aja.” 

Fenny melongo mendengarnya. “Tuhaaaaan, beri aku Asus Zenfone 2 Laser!!!”.

1 komentar:

  1. Keren banget, kamera kecil dengan resolosi tinggi... kalau benda bergerak kira-kira blur atau tidak ya...?

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)