Sabtu, 21 November 2015

# review # review hotel

Jangan Bingung di Vee Hotel, Yogyakarta

Malam sudah larut ketika Fenny sampai di hotel di Jogja dekat UGM ini. Suasana café yang ramai dengan anak-anak muda yang nongkrong menghabiskan malam tak sanggup membuat Fenny mengajak nongkrong suami terlebih dahulu. Privat 12 jam nonstop belajar Instagram Marketing di Wisma MMUGM,  hotel di Jogja dekat kampus UGM itu membuat tenaga Fenny terkuras habis-habisan. Lebih-lebih sambil menggendong Sita, 11m. 

Ketika memasuki kamar tiba-tiba Fenny tercengang. Kondisi kamar yang cukup jadul membuat Fenny agak geli. Setelah meletakkan Sita yang tertidur, Fenny malah asyik mengamati interior kamar. Saat meletakkan tas di meja, Fenny mendapati meja berlapis kaca itu sudah bergerigi di bagian tepi. Lucunya lagi, terselip jadwal ujian mahasiswa UGM beberapa bulan silam. Sepertinya ada mahasiswa yang perlu suasana baru menjelang ujian hingga mengungsi ke hotel. Diatas meja ada televisi model tabung yang disangga besi yang sebenarnya sudah masuk kategori barang rongsokan. 


Bergeser ke ventilasi pintu, sawang alias kotoran debu bertengger manis menutupi kawat kassa nyamuk. Dengan bercak cipratan cat di beberapa tempat, lengkap sudah penderitaan ventilasi itu. Ketika Fenny rebahan, nampak sambungan kabel di lampu neon bulat yang telanjang terurai kemana-mana.





Namun uniknya di tengah-tengah interior yang mengenaskan itu, kamar hotel murah di Yogyakarta dekat UGM ini memiliki fasilitas modern yang cukup lengkap. AC yang terlihat masih baru mampu menyuplai udara yang sejuk di kamar. Dua gelas kecil dan satu termos air panas tersaji di nampan membuat Fenny jadi kepikiran membuat Hot Chocolate untuk mengembalikan mood. Selain itu, set toiletries juga sudah tersedia. Hmmm…sepertinya mandi dulu lebih enak sebelum menikmati coklat panas.

Memasuki kamar mandi dengan daun pintu yang agak reyot, fasilitas kamar mandi modern hadir dengan air panas yang bisa diatur sesuka hati suhunya. Perpaduan yang agak menggelikan bukan? Tanpa pikir panjang, Fenny segera membasuh tubuh yang lemas dengan air hangat dengan shower. Sungguh menyenangkan.


Usai mandi ternyata secangkir coklat panas dan kopi milik suami sudah tersaji. Di saat itulah nampak bagian tempat tidur yang memiliki desain interior yang homy. Dua buah kasur dengan bed cover yang terlihat empuk dengan warna yang lembut dihiasi hiasan dinding cermin bergaya jendela model ukiran Jawa dan lukisan dinding. Abaikan hiasan dinding berupa lampu tempel yang sudah tak bisa digunakan lagi itu. Cukuplah ia menjadi pemanis hiasan dinding.


Tak lama setelah menikmati secangkir coklat panas, Fenny segera menidurkan Sita yang ikut terbangun. Nyamannya kasur yang empuk dan suasan tenang di sekitar membuat Fenny dan Sita tertidur pulas dengan cepat.

Suara peralatan masak beradu membangunkan Fenny keesokan harinya. Tak berapa lama, suara ketokan pintu pelayan mengantarkan sarapan pagi ikut membangunkan suami. Dua porsi nasi goreng dengan teh hangat sudah tersaji pagi-pagi. Pas banget dengan waktu Fenny sarapan. Maklum ibu menyusui jadi kalau pagi-pagi sudah kelaparan. 


Usai memandikan Sita, Fenny mengajaknya keluar jalan-jalan. Di depan hotel murah di Jogja dekat UGM ini ada pedagang kaki lima yang menjajakan aneka cemilan dan menu sarapan pagi. Fenny membeli beberapa cemilan dan jus untuk Sita. 



Ketika kembali ke hotel, nampak café yang semalam ramai pengunjung itu masih tutup. Dinaungi pohon anggur, desain café bernama Blackbone itu nampak cantik dengan ornament kayu pada meja kursi dan dinding kaca sebagai pembatasnya. Fasad hotel yang bertema shabby chic juga nampak cantik meski ada seonggok material bangunan yang belum sempat dirapikan. Papan nama bertuliskan Vee Hotel juga nampak mungil di atas hampir tak terlihat.



Memasuki hotel di Yogyakarta dekat kampus UGM dalam kondisi sadar dan cuaca terang membuat Fenny kembali terkekeh. Jalan setapak yang membelah deretan kamar di kanan kiri dengan gazebo di ujung satunya berikut latar lantai dua hotel membuat Fenny terbayang lingkungan pemukiman padat penduduk menengah kebawah yang berdampingan dengan pemukiman penduduk menengah ke atas yang banyak terlihat di kota-kota besar. 



Rasanya bukan seperti di hotel melainkan di rumah petak. Untungnya ada pepohonan mungil dan taman kecil lengkap dengan kolam ikan yang hijau dan menyegarkan. Pemandangan jadi lebih hijau dan segar dimata. Fenny lalu mengajak Sita duduk di gazebo sembari menikmati cemilan. Sita nampak menikmati sekali suasana gazebo dengan suara gemericik air dan tingkah ikan hias.


Ketika kembali ke kamar, suami nampak asyik online dengan fasilitas wifi gratis penginapan murah di Jogja dekat UGM ini. Kabarnya sinyal wifi cukup kuat. Tambah satu poin lagi untuk hotel yang cukup membingungkan desain interiornya ini.

Pukul 10.00 WIB kami berkemas-kemas untuk check out. Meskipun agak nyleneh interior hotel murah di Jogja sekitar UGM ini, Fenny merasa nyaman bermalam disini. Cukup direkomendasikan untuk masuk daftar hotel di Yogyakarta dekat UGM. Fenny melangkahkan kaki keluar hotel sembari menunggu suami memanasi kendaraan dan terlihat café Blackbone juga sudah menggeliat bangun. Satu bagian hotel yang memikat Fenny untuk kembali suatu saat nanti.

3 komentar:

  1. Kenapa handuknya diphoto ? hayo.........????

    BalasHapus
  2. Kayaknya belum disebukan tarifnya per malam ya Fen?

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)

Follow Us @soratemplates