Sabtu, 19 Desember 2015

SEORANG ANAK MEMPEKERJAKAN ORANG TUA, SALAHKAH DIA?

Wajah wanita berumur setengah abad itu nampak bertransformasi. Senyum mengembang menyingkirkan bias kelelahan yang tak bisa ditutupi ketika mendengar suara motor yang sudah akrab di telinga. Dengan segera, balita yang sudah wangi dan bersih itu berpindah ke tangan wanita muda yang masih berpakaian kerja.

Seakan tak menghiraukan lelah, wanita tua segera berberes-beres rumah dan seiisinya sembari memasak air untuk mandi. Cepat dan gesit. Tak berapa lama, wanita tua itu sudah nampak lebih segar setelah mandi. Beliau mendatangi wanita muda yang sedang menggendong balita. Diraihnya si balita sembari berujar, “Sana mandi dan makan, Al biar sama ibu”. Si wanita tua itu kembali bercengkerama riang dengan balita yang tak lain adalah cucunya.


Wanita muda, ibu dari balita yang juga merupakan anak dari si wanita tua itu lalu bergegas supaya bisa kembali bersama anaknya.

Beberapa bulan kemudian, rutinitas itu sedikit berubah. Si wanita muda tak lagi bekerja. Seorang bayi hadir menambah keriuhan rumah ibunya. Meski tak lagi bekerja di luar rumah, si wanita muda itu menjadi pegawai lepas. Dengan demikian, anak pertama wanita muda itu masih dalam momongan neneknya meski tak penuh waktu seperti sebelumnya.

Dan itulah yang terjadi di dalam rumah orang tua Fenny.

Ketika melihat bapak ibu ikut repot mengasuh cucu di hari tua, Fenny bukannya tinggal diam. Ada rasa tidak tega sekaligus bersalah yang menggelayuti hati dan pikiran. Meski lama-kelamaan Fenny berusaha tak terlalu ambil pusing, rasa itu sesekali muncul mengganggu. Terlebih ketika muncul infografik tentang”mempekerjakan orang tua” di jejaring sosial. Dengan segera infografik banyak dibagikan dan menyebar. Bisa dipastikan, sebagian besar yang adalah para anak yang memang tidak dibantu orang tua dalam mengasuh anak. Entah diasuh sendiri, di titipkan ke penitipan anak saat bekerja atau mempekerjakan ART.


Lalu hati Fenny pun tertohok hingga ujung palung Mindanao *mewek.

Disaat itulah Fenny kembali melancarkan penawaran untuk bapak ibu. Penawaran yang sudah berkali-kali Fenny ajukan. Penawaran itu tak lain berupa pilihan untuk mempekerjakan ART agar bapak ibu tidak ikut repot mengasuh Al dan Sita ketika Fenny sedang bekerja. Namun sekali lagi, bapak ibu menangkis. Beliau beranggapan memalukan jika ada kakek neneknya tapi mempekerjakan ART untuk mengasuh anak. Beliau juga bilang mengasuh cucu merupakan hiburan tersendiri meski tak menampik kadang kelelahan mengingat usia yang makin menua.

Ketika Fenny mengeluhkan penolakan bapak ibu kepada suami ternyata suami menempatkan diri di posisi bapak ibu. Suami memahami pikiran bapak ibu karena disaat yang sama, bapak dan mamah mertua pun meminta adik ipar yang punya dua anak untuk pindah dan tinggal bersama beliau. “Anggap saja berkah untuk keluarga kita karena sudah dibantu mengasuh anak-anak oleh bapak ibu, dek”, ujar suami. "Di luar sana banyak pasangan yang kesulitan untuk sekedar mempertemukan orang tua dengan cucunya. Mumpung kita masih diberi kesempatan mendekatkan bapak ibu dengan anak-anak, biarkan saja. Lebih baik fokus memikirkan bagaimana agar bapak ibu tidak terlalu kerepotan membantu. Anggaran untuk ART bisa ditabung, dibelikan kebutuhan bapak ibu atau memberi souvenir, kado dan hadiah lainnya”.

Penjelasan suami yang panjang lebar itu Fenny cermati. Fenny yang sibuk mengeluhkan penolakan bapak ibu jadi lupa bahwa semua ini salah satu berkah yang tidak ternilai. Bisa memberikan sepasang cucu pertama bagi bapak ibu, mendapatkan bantuan pengasuhan dan menggembirakan hati bapak ibu dengan celotehan cucu-cucunya adalah momen yang tidak akan terulang. Terlebih dalam waktu dekat, Fenny akan pindah mengikuti suami yang membuka usaha di luar daerah tempat tinggal bapak ibu. Menikmati kondisi saat ini adalah hal yang terbaik. Alih-alih memikirkan pendapat orang lain tentang seorang anak yang mempekerjakan orang tua dan merasa bersalah kepanjangan, lebih baik Fenny memikirkan bagaimana menggembirakan bapak ibu agar mendapat berkah yang lebih banyak. Aamiin.

4 komentar:

  1. Sesekali, aku minta ibu dan bapak menjaga anak-anakku. Sepertinya mereka senang-senang saja, walau aku merasa ga tega juga sih kadang-kadang. Kalaupun ada ART, ibuku lebih senang beres-beres sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mbak, ibuku juga gitu. Semoga memang beliau benar-benar tidak keberatan :D

      Hapus
  2. hemm..mempekerjakan orangtua...banyak macam kasus yg terjadi terkait hal ini. Memang ada juga mbak yg pd akhirnya orangtua merasa anak perempuan bliau membebani dgn mengurus cucu. contohnya saya lihat sendiri mbak..tapi kalau kayak Fenni, selama memang kita sudah bertanggungjawab sesuai peran keibuan kita, trus orangtua ridha bahkan senang membantu meringankn urusan kita alhamdulillah..yg prlu kita pastikan, peran kita maksimal dan orangtua ridha..salam kenal mbak

    BalasHapus
  3. gimana ya mba... pinginya sih enggak memperkerjakan hehe

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)