Sabtu, 26 Desember 2015

SEPUTAR BRANDING, BUKAN SEKEDAR LABELLING

Saya tergerak untuk menulis mengenai labelling yang terasa berlebihan saat ini. Begitu mudah kita menempelkan suatu profesi hanya karena melakukan satu-dua pekerjaan saja. … Penghargaan terhadap mereka yang betul-betul berprofesi itu menjadi terabaikan. Apalagi ketika mereka kalah pamor dengan para wannabe ini yang populer di ranah maya.
Fenny yakin para pelaku profesional dalam artian yang sebenarnya akan bertepuk tangan membaca redaksi seperti itu. Bisa jadi banyak yang merasa jeritan hatinya ada yang menyuarakan.

Lalu bagaimana dengan Fenny?


Yang mengaku BLOGGER tapi jarang update, yang mengaku PENULIS padahal buku terbit baru 4 biji dimana yang 2 buku hasil keroyokan, yang mengaku MOMPRENEUR padahal porsi waktu mengerjakan usaha hanya beberapa persen waktu mengurus rumah tangga dan anak-anak serta sederet “label” yang Fenny pasang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Yang bisa dibilang masuk golongan wannabe.

Berkaitan dengan label yang ditempelkan untuk branding, Fenny punya beberapa pengalaman yang erat hubungannya dengan topik yang kini cukup kontroversial.

Saat bergabung dengan sebuah perusahaan Direct Selling produk kecantikan, seketika itu juga Fenny menyandang status sebagai Independent Beauty Consultant. Wow, keren banget khan? Siapapun pasti setuju kalau dengan status seperti itu, orang yang bersangkutan merupakan ahli yang tahu A-Z seputar kecantikan.  Sedangkan Fenny saat itu hanya mahasiswi jerawatan yang bahkan tidak tahu fungsi mascara, eyeliner apalagi cara memakai eyeshadow dan blush on yang menjadi produk dari usaha yang dijalankan.  Tapi Fenny tetap menyandang label tersebut. Sebagai konsekuensinya, Fenny sering mempelajari katalog, ikut beauty class dan memakai produk yang Fenny tawarkan. Hasilnya kini Fenny bisa tahu berbagai macam jenis kosmetik dan produk perawatan. Fenny jadi bisa dandan, mendandani orang lain bahkan menjadi trainer beauty class yang diadakan salah satu BEM kampus di Semarang.

Lain halnya ketika Fenny merambah dunia internet marketing.  Bermodal ebook tentang Aflliate Marketing, Fenny menyematkan label pakar internet marketing. Padahal saat itu bikin blog di blogspot saja harus berjibaku berjam-jam di warnet dan diwarnai derai air mata. Seiring waktu Fenny selalu mengikuti perkembangan internet marketing dari mulai penggunaan berbagai platform blog, jejaring sosial sampai portal media iklan. Berkat konsisten mempelajari itu semua Fenny bisa menjadi project manager sebuah perusahaan web developer, menggarap pemasaran online beberapa toko online klien, memiliki usaha berbasis online sampai kemudian menjadi trainer di workshop marketing sistem online UMKM Jawa Tengah.

Contoh lain datang dari teman facebook Fenny. Beliau memang diakui sebagai pakar marketing online. Ketika instagram mulai memikat banyak pengguna, beliau pun merambah instagram. Followernya baru hitungan dua ratus orang ketika beliau membuka kelas optimasi instagram. Pesertanya membludak mengingat reputasi beliau. Kini follower  instagram beliau sudah ribuan dan semakin menguatkan branding sebagai pakar marketing online.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan Fenny, bisa disimpulkan para profesional yang “berhak” menyadang label profesi itu juga berawal dari bawah, bahkan dari NOL. Yang mungkin hanya tahu nol koma sekian persen dari profesi yang digeluti dan label yang disandang. Kalaupun sekarang dirasa banyak orang yang mudah menyematkan label dalam upaya membentuk branding, faktor penyebaran informasi yang begitu cepat sangat mempengaruhi.  Aktivitas para profesional sedikit banyak menginspirasi untuk diikuti. Jika sampai kalah pamor, jangan meng-underestimate wannabe. Seharusnya malah bisa jadi motivasi para profesional untuk lebih giat mempromosikan diri.

Lagipula seleksi alam pula yang akan berbicara. Meski layak menyandang profesi Beuty Consultant atau Pakar Internet Marketing, tentu Fenny belum ada apa-apanya dibanding orang lain yang berprofesi sama. Kini fokus Fenny berubah seiring pencarian jati diri dan penyesuaian dengan kodisi sebagai ibu rumah tangga. Fenny memilih untuk melabeli diri sebagai blogger, penulis dan mompreneur untuk branding. Profesionalitas akan teruji beberapa waktu kedepan.

Ini hanyalah pandangan seorang wannabe. Sedikit pesan yang ingin Fenny sampaikan,

“Wahai para profesional, tak perlu nyinyir atau takut dengan kemunculan para wannabe. Percayalah, kelasnya sudah berbeda. Khalayak umum pasti sudah bisa memilah dan akan lebih mengakui profesinalitas yang telah dicapai. Ibarat kata, “Harimau tak kan takut dengan banyaknya populasi semut karena mangsanya berbeda”.

Wahai para wannabe, jangan takut menyematkan label sebagai upaya branding diri. Buktikan jika label itu pantas disandang dan menjadi motivasi untuk menekuni hingga menjadi profesional yang sesungguhnya.”

Salam sukses dari seorang wannabe, hehe

6 komentar:

  1. Ngak apa kok melabeli diri sendiri bisa jd motivasi dan bagian dr doa juga kan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. buat motivasi juga mbak biar ga sekedar label ;)

      Hapus
  2. Hoho kerreeen, dulu sempet ragu melabeli diri sendiri mengingat skill hanya nol sekian persen. Tapi seiring waktu semakin banyak ilmu yg didapat, jadi lebih pede. Semangat deh buat para wannabe :))

    BalasHapus
  3. Saya suka quotesnya “Harimau tak kan takut dengan banyaknya populasi semut karena mangsanya berbeda” :)

    BalasHapus
  4. Siip infonya mbak :-) jadi makin semangat deh

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)