Senin, 21 Desember 2015

Tentang Sebuah Misi & Impian: KONSERVASI

Perkenalan Fenny dengan impian bermula ketika masih kelas 3 SD. Sebuah buku novel & sastra yang berhasil membuka cakrawala bocah ingusan. Kisahnya Fenny tuliskan disini. Dari situlah Fenny memimpikan sesuatu yang bisa terwujud jika bisa masuk di sekolah favorit tiap jenjangnya. Tapi apalah daya ketika sejak SMP sampai perguruan tinggi, tidak ada satupun yang ada di daftar sekolah impian Fenny sebelumnya. Meskipun demikian, Fenny menikmati setiap detik yang dilalui di bangku sekolah. Puncaknya ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang yaitu di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Perjalanan mewujudkan sekolah impian Fenny di tengah ketidakpuasan karena tidak bisa melanjutkan kuliah di kampus yang Fenny incar hasilnya mempengaruhi kehidupan hingga kini.


Unnes bukanlah sekolah impian Fenny. Bahkan Fenny belum pernah mendengar sebelum akhirnya ikut tes ujian masuk (kala itu disebut SPMU) Unnes berkat rekomendasi guru BP. Lebih parahnya lagi ketika Fenny diterima di jurusan yang sebenarnya tidak diminati. Fenny terdampar di jurusan Pendidikan Fisika. Tahun pertama Fenny masih menikmati proses perkuliahan sambil mencari aktivitas yang sesuai dengan hobi Fenny.

Organisasi mahasiswa hingga berkutat di studio radio sempat Fenny sambangi. Tapi rupanya semua itu tidak memenuhi hasrat kepuasan hati.

Tahun kedua Fenny mulai bimbang. Terbayang lagi sekolah impian IPB yang tahun lalu harus rela dilewatkan karena biaya masuk yang tak terjangkau anggaran bapak ibu. Bayangan menciptakan lingkungan hijau dan pertaniaan yang subur kembali menari-nari. Kalau melihat foto-foto lingkungan kampus IPB, rasanya sejuk sekali. Bertolak belakang dengan kampus Unnes yang kala itu masih gersang.

Perkuliahan semakin pelik ketika Fenny kesulitan mengikuti materinya. Keuangan pun semakin tak pasti. Rasa-rasanya sudah seperti ingin pindah atau berhenti kuliah. Di tengah kejenuhan, Fenny berselancar di internet dengan fasilitas koneksi internet gratis laboratorium komputasi. Kata kunci yang Fenny masukan dalam kolom pencarian google menggiring pada blog yang mengulas pengelolaan limbah rumah tangga. Topik yang sangat menarik. Sayangnya teknik yang digunakan belum praktis diterapkan. Tiba-tiba muncul ide untuk mengadopsi alat pengolahan limbah rumah tangga dalam bentuk yang lebih praktis. Ide itu pun Fenny sampaikan pada teman yang langsung mengiyakan. Tepat sekali saat itu ada pengumuman Program Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Dikti. Ide dan teman kelompok sudah ada, kurang dosen pembimbinga. Bersyukur sekali Fenny menemukan dosen yang memiliki pemikian sana di kalangan jurusan Fisika. Dengan segala perjuangan dan berbagai hambatan, program Fenny pun didanai dan terlaksana dengan baik.

Sejak saat itu Fenny sering diajak dalam program konservasi perguruan tinggi. Rupanya rektor Unnes kala itu juga menggalakan Unnes menjadi kampus konservasi. Kampus yang hijau dan asri. Satu demi satu program menuju kampus konservasi mulai dilakukan. Salah satunya adalah tentang pengolahan limbah kampus. Jumlah pepohonan yang semakin bertambah di lingkungan kampus semakin banyak. Jumlah sampah organik pun bertambah. Fenny mendapat bagian mengolah sampah organik dalam skala besar bersama dosen. Kegiatan tersebut dilakukan di sela-sela kuliah dan keSibukan bisnis Fenny. Meskipun jadwal Fenny menjadi sangat padat, semuanya dijalani dengan riang. Keikutsertaaan Fenny mewujudkan UNNES sebagai kampus konservasi seperti angin segar yang mengobati kegersangan hati. Fenny menemukan sekolah impian tanpa harus pindah. Berkutat di dunia penelitian membuat Fenny memahami potensi kemampuan menulis dalam diri. Berkecimpung di bidang lingkungan membuat imapian Fenny akan bumi yang hijau dan asri menjadi segar kembali. Saat PPL di SMP N 1 Ungaran, Fenny sempat menularkan ilmu pengolahan sampah pada siswa-siswi. Mereka sangat antusias sekali.


Hingga kini Fenny masih berjuang mensosialisasikan pengolahan limbah di lingkungan sekitar berbekal pengetahuan yang didapat saat kuliah. Bahkan dukungan dosen pembimbing masih terasa melalui silaturahim dan diskusi.

Selang dua tahun sejak kelulusan Fenny, kampus Unnes telah mewujudkan diri sebagai kampus konservasi.Kerja keras civitas membuahkan hasil naiknya rangking Unnes dalam jajaran kampus terhijau di dunia di kancah UI greenmetric World University Rangking. Unnes menduduki peringkat ke 4 setelah UI, IPB dan Undip untuk tingkat Indonesia.

Decak kagum dan bangga terucap dari mulut Fenny. Kampus Unnes benar-benar menjadi sekolah impian. Terbukti dengan banjirnya peminat calon mahasiswa baru yang meningkat setiap tahunnya. Semoga Unnes tidak hanya berhasil mencetak lulusan yang memiliki daya saing tinggi tapi juga generasi hijau yang peduli lingkungan. Unnes SUTERA, salam konservasi :)

4 komentar:

  1. Visi dan misi saya adalah menghalalkan segera :3

    BalasHapus
  2. Kampus yang ramah lingkungan pasti membuat mahasiswanya betah di situ dan suasana belajar jadi lebih nyaman.

    BalasHapus
  3. bagus visi misinya.. semoga tercapai

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)