Sabtu, 02 Januari 2016

# sudut pandang

MAKNA DIBALIK KUE APAM

Ibu nampak muram. Meski berada di tengah keremangan ruang makan, Fenny bisa melihat sorot mata ibu yang sendu.

“Ibu kenapa?,” tanya Fenny sembari duduk di samping beliau. Nampak ibu menghela nafas. Terdengar seperti orang kelelahan. Hati Fenny makin trenyuh melihatnya.

“Dulu, Ki Ageng Gribig yang mewariskan.”. Sepertinya ibu ingin bercerita sesuatu sehingga Fenny bersiap mendengarkan. “Ki Ageng Gribig membuatnya sebagai bentuk cinta untuk anak-anak didiknya. Kabar beliau membawa oleh-oleh sepulang dari Makkah tersiar hingga diketahui seluruh penghuni pondok. Padahal beliau hanya membawa beberapa buah kue bekal dari seorang kenalan di Makkah. Tak ingin mengecewakan anak didiknya, Ki Ageng Gribig minta pada nyai untuk dibuatkan kue yang mirip sejumlah penghuni pondok.”

Ibu kembali menghela nafas. Lebih berat.


“Hingga akhirnya jadilah kue apam ini,” lanjut ibu sambil menunjuk setumpuk kue di nampan. “Ki Ageng Gribig mewariskan rasa cinta kasih dalam sebentuk kue. Demikian pula ibu. Tapi sayang, sepertinya bentuk kasih sayang yang ibu buat tidak cocok untuk kalian. Padahal ibu ingin anak cucu mengenal penganan ini berikut sejarahnya. Tapi jangankan ingin mendengar sejarahnya, mencicipi satu pun untuk beramai-ramai. Mubadzir ibu membuatnya banyak-banyak.”

Kue apam yang sengaja dibuat ibu lebih banyak dari jatah untuk kenduri memang masih bersisa banyak. Niat ibu ingin menyuguhkannya saat anak cucu dan keponakan berkumpul setelah acara menyambut bulan Ramadhan. Namun sepertinya penganan lain lebih menarik di banding kue apam buatan ibu. Rupanya itu yang membuat hati ibu masygul.

Fenny menggenggam tangam ibu seraya berkata,”Mungkin mereka masih kenyang bu. Lagipula tadi mereka keburu ke masjid juga”. Fenny coba membesarkan hati beliau. Namun sepertinya beliau terlanjur kecewa. Beliau mengendikkan bahu sambil berdiri dan menuju kamarnya.

Fenny paham betul bagaimana perasaan ibu. Indahnya memberi cinta dalam sebentuk kue seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Tapi rasanya urusan selera menjadi penghalang untuk mewujudkannya.

Fenny memandangi kue apam di atas meja. Tiba-tiba terbesit ide untuk membuat kue apam menjadi lebih menarik. Fenny membelah sebagian kue apam dan mengisinya dengan keju melt lalu mengukusnya beberapa menit. Sebagian lainnya Fenny oles permukaannya dengan mentega dan ditaburi keju parut. Kue apam telah ber-metamorfosa dan tampil beda.

Fenny lalu menghidangkan kue apam dengan wajah baru itu di meja ruang keluarga. Lelehan keju yang menghiasi pinggir kue apam dan taburan keju parut sungguh menggoda. Dengan segera anak dan keponakan menyerbu. Tak ketinggalan pula suami dan bapak. Padahal biasanya hanya biskuit & kue yang suka dilirik. Ibu yang melihatnya jadi bengong. 

“Ini yang buat Eyang Uti lho”, bisik Fenny kepada Al, anak pertama Fenny.

Al lalu mengacungkan kue apam yang telah digigitnya seraya berkata, “Enak lhoo Uti”. Ucapan Al dengan gayanya yang khas sontak membuat ibu dan yang lain tertawa.

“Iya, ini kue apam yang penuh gizi”, tambah suami. Tentunya yang dimaksud suami adalah gizi dari keju yang kaya kalsium dan vitamin D. “Tulang kita bakalan lebih kuat neh berkat kue apam keju buatan nenek”.

Ibu tak henti-hentinya tersenyum. Dengan bersemangat ibu kemudian bercerita tentang sejarah kue apam. Cerita yang kemudian disambut dengan permintaan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig yang letaknya tidak jauh dari rumah. Ki Ageng Gribig memang salah satu sosok yang disegani di wilayah Jatinom dan sekitarnya. Hingga kini makamnya ramai dikunjungi para peziarah.

Fenny menarik nafas lega. Lega karena bisa menuntaskan indahnya memberi cinta yang ibu ajarkan pada Fenny melalui kisah dan warisan Ki Ageng Gribig. Meski apa yang Fenny lakukan belum seberapa dibanding cinta yang ibu berikan, Fenny senang bisa mengembalikan senyum ibu. Lezatnya keju telah melelehkan duka di hati ibu seperti lelehan keju di mulut. Semoga tak lagi ada kegundahan karena perbedaan selera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)

Follow Us @soratemplates