Rabu, 06 Januari 2016

# sudut pandang

Pencarian Jati Diri Seorang Wanita, Anak dan Ibu

Sebagai seorang anak yang dilahirkan oleh seorang ibu bekerja, dalam artian ibu yang bekerja di luar rumah atau sekarang memiliki bahasa keren Working Mom, dulunya Fenny pun juga memiliki pemikiran yang sama dengan ibunda tercinta. Setelah selesai kuliah, bekerja, menikah lalu punya anak dan tetap bekerja. Pemikiran yang sederhana dan standar untuk sebuah masa depan yang masih panjang. Pengalaman ibu sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru PNS membuat beliau berpandangan seorang istri apalagi yang sudah menjadi ibu itu tetap harus berpenghasilan sendiri. Oleh karena itu harus bekerja, TITIK. Fenny pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Bahkan saking nurutnya, Fenny pernah memiliki cita-cita menjadi guru juga dan terwujud dengan diterimanya Fenny sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Semarang.


Perkenalan Fenny dengan dunia internet terutama dunia internet marketing dan blogging ternyata memiliki pengaruh besar di kehiduan Fenny sampai sekarang. Ketika mulai goyah dengan pilihan study yang telah dijalani, Fenny menemukan hal baru yang juga mempengaruhi pemikiran hingga hampir bertolak belakang. 

Sempat mencicipi ketebalan kantong yang tidak sekedar dompet koin. Hal yang sebelumnya tidak pernah dicicipi karena uang saku pas-pasan berkat mencoba usaha internet marketing, Fenny jadi mengetahui bahwa mendapatkan penghasilan itu tidak harus bekerja kantoran. Fenny pun menikmati profesi ini meskipun dengan pasang surutnya penghasilan.

Menjadi seorang freelance sembari kuliah juga mengantarkan Fenny ke cita-cita menikah muda meskipun jadi melenceng dari pemikiran standar Fenny dulu. Belum selesai kuliah tapi sudah menikah tapi minimal sudah bekerja dulu, hehe. Saat wisuda ternyata Fenny diberi hadiah dan amanah kehamilan. Wohoooo…bakalan jadi ibu muda juga. Saat itu Fenny dan suami tengah membangun bisnis web developer yang sistem kerjanya sesuai idealisme kami berdua bahwa bekerja itu tidak harus kantoran berangkat pagi pulang sore atau malam. Tidak ada halangan yang berarti karena sejak saat itu Fenny tinggal berdua di Semarang.

Kegalauan menimpa Fenny saat memutuskan melahirkan di Klaten atas permintaan orang tua. Seusai lahiran ternyata Fenny tidak langsung diperbolehkan ikut suami ke Semarang. Satu bulan, dua bulan hingga berbulan-bulan kemudian akhirnya Fenny masing tinggal dirumah orang tua. Memasuki bulan ketiga, ibu mulai melancarkan serangan yang menunjukkan ketidaksukaan beliau dengan aktivitas Fenny yang sering khusus di depan laptop. Rupanya sulit menjelaskan pada ibu yang lahir dan besar di jaman batu dengan teknologi internet yang bisa memberikan penghasilan bagi yang menekuni. Aktivitas Fenny dibilang sia-sia meskipun sudah ada bukti penghasilan. Ijazah yang tidak terpakai dan gelar yang tidak digunakan sebagaimana mestinya rupanya membuat ibu tidak ikhlas. Sekolah tinggi-tinggi koq hanya dirumah.

Demi menyenangkan ibu, Fenny bekerja ketika Al berusia 6 bulan. Demi memberikan ASI ekslusif pula Fenny memerah ASIP dan menyimpannya di kulkas. Fenny kira semuanya akan baik-baik saja sampai pada akhirnya belum ada sebulan Al tidak mau menyusu. Usut punya usut ternyata ASIP tidak diberikan pada Al karena bapak ibu sulit menerima bahwa ASI bisa disimpan. Fenny pun menangis tersedu-sedu. Niat hati menyenangkan orang tua tapi kehilangan masa emas untuk menyusui dua tahun. Beragam cara Fenny coba untuk menyusui Al lagi termasuk dengan resign langsung dari pekerjaan sebagai bentuk protes. Rupanya itu malah membuat ibu menekan Fenny yang tidak mau “bekerja”.

Negosiasi berlangsung setelah keadaan semakin runyam. Fenny memutuskan mengikuti suami ke Semarang setelah mendapatkan tawaran mengajar di salah satu sekolah swasta. Fenny mengiyakan untuk tetap bekerja karena di sekolah tersebut nantinya juga ada penitipan anak. Jadi pemikiran Fenny bisa menengok Al beberapa jam sekali. Rupanya takdir membuka jalan lain. Saat tanda tangan kontrak bersamaan dengan jadwal Fenny mengisi workshop di Universitas Diponegoro. Fenny pun memilih tetap mengisi workshop meski itu sama saja melewatkan tawaran bekerja sebagai guru. Kehidupan sebagai ibu rumah tangga pun dimulai.

Awalnya Fenny merasa bahagia. Menjalani hari bersama Al dan sesekali mengikuti kegiatan blogging. Namun lama-kelamaan Fenny merasakan kehampaan. Fenny jadi cenderung lebih emosional. Bahkan jauh lebih emosional ketika masih tinggal bersama orang tua setelah melahirkan. Kekacauan ini membuat Fenny merenung dan menemukan jawaban bahwa Fenny memerlukan me time untuk mengembalikan kewarasan. Bukan hal yang mudah untuk mengakui kebutuhan aktualisasi diri tanpa harus menggendong Al kesana kemari. Selain membuka jalan penghasilan tanpa kantoran, internet juga membawa Fenny pada pengetahuan tentang homeschooling. Tidak hanya terpukau hasil akhirnya yang rata-rata mencetak anak cemerlang tapi sempat juga ada ketakutan akibat berita-berita negatif yang berkaitan dengan anak di lingkungan penitipan anak sampai perkuliahan. Tapi sekali lagi Fenny mengukur ulang kemampuan diri sekaligus mengevaluasi. Suami rupanya menyadari dan membantu mengurai setiap kemungkinan.

Kini Fenny kembali tinggal bersama orang tua. Negosiasi ulang. Fenny pun mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian. Fenny bisa bekerja dengan jam kerja yang fleksibel. Sesekali me time untuk mengikuti kegiatan blogging. Fenny memiliki waktu dimana Fenny bisa menjadi diri sendiri dan mewujudkan setiap impian. Berawal dari sini lah Fenny mulai merancang kembali perjalanan sebagai seorang ibu sekaligus sebagai makhluk sosial. Tidak harus sama seperti A atau si B. Tak lagi merisaukan ketika ada yang mempertanyakan pekerjaan yang tidak sesuai ijazah. Tak perlu antipati dengan ibu yang menitipkan anak ataun menyekolahkan anak ke sekolah formal. Perjalanan sampai pada titik ini juga membuat Fenny mengacungkan jempol untuk ibu rumah tangga. Ini lah keseimbangan yang Fenny inginkan. Meski kadang lelah setelah beraktivitas di luar rumah, Fenny bisa kembali memeluk dan merawat Al dengan hati yang penuh keikhlasan. Dengan cinta yang seutuhnya.
It’s a long, long journey…
Have a great experience of being a mother
It’s mommylicious  (hal 171, catatan Mama Arin)

1 komentar:

  1. Aku juga ketika memutuskan utk jadi penulis ditentang oleh ibuku yg berharap aku berkarir dan punya penghasilan sendiri. Idem alasannya: sayang dg sekolah tinggi dan titelku. Sepertinya beberapa ibu punya pemikiran yg serupa ya

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)

Follow Us @soratemplates