Minggu, 13 Maret 2016

Cara Cerdas #NyicilMasaDepan dengan 3I ala Manulife Reksa Dana Kas II

 

Drama itu ketika peluang masuk perguruan tinggi negeri favorit tanpa tes sudah di tangan tapi ternyata,
,
,
,
,
,
“Yang lain saja ya nak, yang biaya sesuai anggaran bapak ibu”

Duh, kalau ingat kejadian yang sudah berlangsung hampir 8 tahun yang lalu itu masih saja menyisakan pedih di hati. Terkadang ada rasa penyesalan mengapa kedua orang tua Fenny tidak berusaha lebih keras untuk mengumpulkan uang biaya pendidikan demi cita-cita anaknya. Meski kini Fenny sudah bersyukur menyandang gelar sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri, penyesalan atas masa lalu Fenny menyisakan motivasi untuk berjuang lebih keras demi biaya pendidikan anak-anak nanti. Tapi bagaimana caranya?

Sebuah video yang ditayangkan oleh mas Surya Dinata, Poss Manager Manulife saat acara ulang tahun komunitas blogger Gandjel Rel yang pertama di River View Café, Semarang hari Minggu, tanggal 06 Maret 2016 kemarin membuka mata, hati, pikiran dan dompet Fenny. Fenny tersentak. Ternyata tidak hanya biaya pendidikan, biaya kesehatan bahkan biaya hidup Fenny nanti ketika sudah tidak bisa seproduktif sekarang sudah menanti di depan mata. Besarnya tak main-main. Asli bikin kebat-kebit deh.

Untuk biaya hidup saja, jika diasumsikan usia hidup sampai 80 tahun dan usia produktif 55 tahun maka ada waktu 25 tahun untuk hidup non produktif. Dengan usia Fenny yang kini memasuki usia 27 tahun, itu artinya masa produktif dengan non produktif besaranya sama. Itu artinya seharusnya Fenny memiliki dana tabungan untuk masa non produktif yang besarnya minimal sama dengan biaya hidup sekarang. Minimal lho itu. Belum dihitung dengan tingkat inflasi per tahun. Bisa jadi 50 tahun kedepan biaya hidup sudah jadi dua kali lipat biaya hidup sekarang.

Lah khan punya anak, biar di tanggung anak dong biaya hidup ketika sudah tidak produktif? Urusan ini makin pelik di era masa kini. Sekarang berapa banyak keluarga yang memiliki anak lebih dari 2? Kebayang dong kalau dua anak harus menanggung biaya hidup orang tuanya juga. Alih-alih memberikan beban pada anak di masa depan, lebih baik kita cicil masa depan dari sekarang, setuju? Oke siip, mulai insyaf.

Sedangkan biaya pendidikan, jika dihitung-hitung dengan cita-cita Fenny yang ingin si Al jadi polisi dan Sita jadi dokter, kebayang dong berapa biaya pendidikannya. Saat ini usia Sita baru 1 tahun dan biaya masuk bangku kuliah kedokteran sudah mencapai angka hampir 300 juta. Itu baru biaya masuk, belum biaya lain-lain termasuk biaya hidup. Kalau hanya mengandalkan penghasilan sekarang, cukup kah?

Biaya kesehatan juga jangan ditanya. Siapapun pasti ingin sehat dan meninggalkan dunia penuh fatamorgana ini dengan cara yang asyik. Tapi faktanya semakin tua, fisik juga semakin melemah. Minimal untuk biaya menjaga kesehatan itu juga tidak murah bukan?

Mengetahui semua itu rasanya Fenny seperti disadarkan untuk hal yang terlewatkan. Langsung insyaf berkali-kali. Lalu bagaimana memenuhi semua kebutuhan di masa depan itu?

Hal yang pertama kali terfikirkan adalah dengan IRIT. Irit yang bukan berati PELIT. Mulai dari irit gaya hidup. Tidak harus memulai hari dengan kopi di café, dirumah saja cukup. Hemat hingga 90%, hihi. Irit yang kedua itu irit penggunaan. Kalau kata mas Surya, siapa bilang pakai pasta gigi harus penuh seluas permukaan sikat gigi? Itu mah iklan, pasta gisi secuil pun sudah bikin mulut berbusa, ya khan??? Ada lagi irit kolaborasi karena irit bersama-sama itu lebih indah. Contohnya kalau bisa berangkat kerja rame-rame dengan satu kendaraan, mengapa harus bawa kendaraan sendiri?

Ternyata seru ya IRIT itu. Hasilnya pun seru karena menyisakan dana yang lebih banyak dihemat ketimbang mubazir. Lalu kalau sudah ada dana lebih, mau dibawa kemana selanjutnya?

Simpen uang dibawah bantal itu sudah tidak relevan saudara. Yang ada tar digigit semut, eh tikus. Lebih parah lagi kalau habis dimakan tikus berkepala hitam alias kita sendiri. Ya tahu sama tahu lah kalau ada uang nganggur rasanya seperti ada bisikan setan belanja, ya khan?

Kalau nabung? Menabung memang aman untuk jangka pendek. Sayangnya nilai tabungan dalam jangka panjang akan tergerus inflasi. Belum lagi kalau ada potongan biaya administrasi, pajak dan lain-lain.

sumber gambar: fanpage Reksa Dana Manulife

Solusinya? INVEST dong ke reksa dana.

Awalnya Fenny juga tidak paham dengan investasi reksa dana. Bahkan cenderung takut berinvestasi di reksa dana karena beresiko. Rupanya Fenny salah sangka, eh salah paham, eh … salah duga.

Rupanya ada reksa dana kas II yang memiliki kelebihan biaya terjangkau, aplikasi yang variatif dengan pilihan deposito, obligasi atau saham, dilindungi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dipantau secara rutin dan professional, pencairan mudah dan hasilnya menggiurkan. Bunganya net hingga 7% per tahun. Tanpa potongan biaya administrasi dan pajak lho. Dan semua kriteria itu ada di produk Manulife Reksa Dana Kas II.

Hanya dengan Rp100.000,- saja sudah bisa berinvestasi di reksa dana. Terjangkau bukan? Anak muda seumuran mahasiswa pun pasti punya uang senilai itu. Buktinya Manulife berhasil mencetak rekor Penciptaan Investor Syariah Terbanyak bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 31 Agustus 2015 lalu.


Pengajuan aplikasinya juga sangat mudah. Cukup mengisi data dan fotokopi KTP. Bekerja sama dengan bank BCA, BNI dan Mandiri, fasilitas auto debet bisa digunakan untuk menambah dana secara rutin. Jika tidak memiliki rekening di ketiga bank tersebut, fasilitas atm transfer sudah tersedia. Pencairannya pun mudah. Tidak dibatasi waktu, tanpa biaya administrasi dan potongan pajak. Kabarnya semua layanan Manulife Reksa Dana Kas II ini akan ada aplikasi onlinenya juga lhooo.


Dan ternyata investasi reksadana tidak hanya sebagai cover biaya kesehatan, pendidikan dan pension tapi juga untuk wirausaha, property dan lain-lain. Reksa Dana Manulife menyediakan fitur MIPlan yang bisa digunakan untuk perhitungan nilai investasi untuk berbagai keperluan. Berikut video yang menampilkan contoh perhitungan nilai investasi yang harus Fenny setorkan untuk mewujudkan impian masa depan Fenny, salah satunya property rumah kos.


Kini Fenny sudah insyaf, siap untuk irit dan investasi. Saatnya untuk praktek cara cerdas nyicil masa depan dengan 3i (insyaf, irit, investasi) ala Manulife Reksa Dana Kas II dari sekarang. Bagaimana dengan kamu?

Informasi tentang Manulife Reksadana Kas II bisa diperoleh di:
Manulife Asset Management
Kantor Pusat
Sampoerna Strategic Square South Tower, 31st floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.45-46, Jakarta 12930
Kontak
Telepon: (021) 2555 22 55
web. : https://reksadana-manulife.com/
fp. : Reksa Dana Manulife
twitter: @manulifeRD

4 komentar:

  1. Meninggalkan dunia ini dgn cara yg asyik. Langsung garuk2 kepala deh. Hahaha.

    Bener mbak sekarang sekolah mehong bgt. Itu 300 biaya masuk kedokteran sekarang lah mbesok jur pirooo???

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAAHA Iya tuh, inflasi 2% per tahun aja berarti dh naik 25% biayanya, ahaiiii

      Hapus
  2. Saya punya reksadana. Sebagian merugi hampir 5% akibatnya krisis monster sepanjang tahun lalu, tetapi sebagian lagi sudah untung sampai 8% dalam setahun.

    Manulife Aset Manajemen cukup bagus dalam mendiversifikasi isi portofolio reksadananya, tetapi portofolionya sering lamban update dibandingkan perusahaan manajemen Aset yang lain. Efeknya, Manulife Aset Manajemen sering lamban dalam menjaring investor baru sehingga investor pun lebih tertarik ke manajemen Aset kompetitornya yang lebih gesit meng-upload portofolio reksadananya. Mudah-mudahan tulisan Fenny ini bisa menjaring investor baru, yang masih awam terhadap reksadana dan tidak telaten membanding-bandingkan reksadana dari perusahaan satu dengan perusahaan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pengetahuan yang baru buat Fenny di dunia saham mbak, terima kasih tambahan informasinya :-*

      Hapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)