Sabtu, 28 Mei 2016

Jangan Lakukan Hal Ini Saat Menasehati Orang Lain Jika Tak Ingin Hubungan Kalian Berantakan

“Ternyata niat baik itu tidak selalu berbuah kebaikan”
Pernyataan yang terlontar itu seakan meninju Fenny meski disampaikan via aplikasi chat. Terlebih dengan rentetan kata-kata yang terkirim sebelumnya. Sejak Fenny melempar pertanyaan, balasan jawaban dan penyataan yang muncul bernada emosi tinggi. Padahal Fenny hanya mengirimkan satu pertanyaan. Fenny juga sudah mencantumkan emoticon malu-malu dengan harapan bahwa pertanyaan yang Fenny berikan bernada santai. Bukan pertanyaan dengan nada jutek.

Berawal dari sebuah tawaran untuk menggantikan posisi sebagai peserta sebuah seminar. Seminar tentang bisnis online dengan target bisnis ekspor. Meski tak begitu tertarik dengan materinya, Fenny mengiyakan. Hitung-hitung bantu “mantan” bos yang bisa dibilang dulu sangat memberikan kelonggaran untuk bekerja sekaligus berkarya. Saat itu Fenny diminta untuk mewakili merek yang dimiliki beliau. Tentunya karena memang sebenarnya undangan itu untuk pemilik brand, nantinya juga ada keberlanjutan tindakan pasca seminar. Otomatis data-data yang diserahkan saat pengisian data formulir maupun kuesioner merupakan data brand milik beliau.

Kebetulan juga tanggal seminar pas H+1 ada acara Fenny pribadi di Semarang. Pikir Fenny bisa sekalian jalan jadi tidak bolak balik Klaten-Semarang. Lokasi acara berada di badan diklat dinas provinsi. Tahu sendiri dong biasanya yang berhubungan dengan dinas itu ada amplopnya. Tidak munafik juga hal itu yang membuat Fenny mantap menerima tawaran beliau.

Walhasil selama dua malam dua hari fenny berada di badan diklat dinas provinsi. Berhubung sita belum bisa lepas dari fenny, suami ikut menemani untuk mengasuh sita selama fenny mengikuti seminar. Kegiatan berlangsung dari pagi sampai sore sehingga suami benar-benar off dari kegiatannya. Suami yang notabene juga sering berurusan dengan dinas dan mengerti akan budaya amplop itu pun merasa santai-santai saja karena nantinya akan ada pemasukan.

Sejak awal sebenarnya fenny sudah merasa ada kejanggalan. Lokasi acara di instansi pemerintahan tapi sambutan dari awal tidak ada yang dari dinas. Jangan-jangan ini proyek promosi sponsor salah satu perusahaan yang menangani perdagangan ekspor. Terlanjur berada di lokasi dan daftar ulang, fenny menepis asumsi negatif yang terlintas. 

Hari kedua, penutupan acara hanya berupa ucapan terima kasih dari pengisi materi terakhir. Lagi-lagi tidak ada perwakilan dari dinas. Suami sudah mulai kasak-kasuk. Berulang kali menanyakan pada fenny tentang ada tidaknya amplop. Fenny yang sedari awal juga tidak mengetahui kepastiaannya dan luput menanyakan saat ditawari jadi serba salah. Tak tahan dengan usikan suami, akhirnya fenny mengirimkan pertanyaan berkaitan dengan amplop pada mantan bos.

Tak disangka jawaban tidak mengenakkan dengan serentetan pernyataan bernada emosi dan diakhir dengan ceramah seperti yang tertulis di awal. Fenny merasa sangat terluka. Bertumpuk dengan rasa lelah pasca mengikuti seminar dan masih harus menempuh perjalanan pulang ke klaten dengan transportasi umum. Meski merasa bahwa biat baik fenny juga disalahartikan dan berakhir dengan tuduhan, fenny memilih diam tak lagi menanggapi apapun yang disampaikan beliau.

Keesokan harinya beliau malah memperbarui status di salah satu jejaring social dengan pernyataan yang diklaimnya sebagai pembelajaran kebijaksanaan. “Ternyata niat baik itu tidak selalu berbuah kebaikan”. Tak mau kalah, fenny membalasnya dengan postingan di jejaring social yang sama. “mengajarkan kebijaksanaan dengan emosi? Lalu dimana letak esensi kebijaksanaan itu?”

Fenny tak asal menuliskan hal itu. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا

Yang artinya, “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (qs. Ath thaha: 44). Cara beliau yang mencoba menasehati fenny dan berpetuah tentang kebijaksanaan dengan emosi sungguh tidaklah sesuai dengan firman allah. Alih-alih meraih hati fenny, beliau malah menorehkan luka.

Beliau juga menasehati fenny di waktu yang tidak tepat. Ibnu mas’ud pernah bertutur: “sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (al adab asy syar’iyyah, ibnu muflih). Di saat fenny sedang di titik kelelahan dan ingin jawaban yang menenangkan, beliau malah membalas dengan kemarahan dan berceramah ria. Beliau sukses menyiram minyak ke dalam api. Terlaluuuuu …

Lebih parahnya lagi beliau kembali menasehati fenny melalu jejaring social. Mau nyinyir? Padahal al hafizh ibnu rajab berkata: “apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (jami’ al ‘ulum wa al hikam, halaman 77).

Jadi dari kejadian itu fenny pun juga mendapat pelajaran kebijaksanaan bahwa ketika menasehati orang lain janganlah dengan nada kasar, jangan ketika emosi sedang berkobar dan jangan sampai mempermalukan orang lain. Akan lebih baik jika nasehat disampaikan dengan lembut ketika yang bersangkutan dalam kondisi tenang dan sebisa mungkin berdua saja. 

Menyadari masih ada urusan pekerjaan yang belum terselesaikan dan menimbang fenny yang berusia lebih muda maka beberapa waktu kemudian fenny menyambangi beliau. Alhamdulillah beliau juga berlapang dada. Ternyata beliau berfikir materi yang bersinggungan dengan bisnis online akan menarik minat Fenny sehingga bisa mewakili beliau menghadiri seminar dengan sukarela.Padahal sebenarnya Fenny tidak berminat dan mengiyakan dengan niat membantu beliau. Sama-sama biat baik yang jadi berbalik makna karena kesalahan komunikasi. Kekonyolan kami memaknai niat baik yang tidak selalu berbuah kebaikan dari sisi masing-masing jadi bahan candaan dan tambahan pembelajaran kehidupan.

Semoga kalian jangan lakukan hal ini saat menasehati orang lain jika tak ingin hubungan kalian berantakan.

7 komentar:

  1. bahkan untuk memberi nasehat itu butuh seni tersendiri ya mbak Fenny

    BalasHapus
  2. ini pesan yang saya dapat dari seorang ustadzah, katanya kalau niat baik, apa yang kita sampaikan juga baik tapi bila CARA kita salah, maka bisa lenyaplah kebaikan yg kita inginkan tadi. Jadi, menyampaikan sesuatu juga butuh teknik ya mbak. Saya juga masih payah mengorganisir kata

    BalasHapus
  3. seni memberi nasehat memang sangat penting, makasih ya mbak infonya, hehehe

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah dapat ilmu dakwah baru nih hehehe

    BalasHapus
  5. Sekarang hubungan fenny dengan mantan bos tersebut gimana?

    BalasHapus
  6. Fen, cek pengumuman GA ku ya

    http://www.noormafitrianamzain.com/2016/06/pengumuman-giveaway-kebaikan-tak-selalu-baik-di-mata-orang-lain.html

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)