Sabtu, 24 September 2016

# sudut pandang # tips

Ketahuilah 4 Hal Berikut Saat Akan Membangun Startup Digital Agar Tidak Menyesal Kemudian

Perjalanan baru dimulai saat Fenny mengikuti Ignition 2 yang merupakan rangkaian acara Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Yogyakarta. Berbekal video tentang misi Fenny membangun startup digital, Fenny berkesempatan mendapatkan pembekalan untuk memiliki pola pikir seorang founder yang benar.

Seorang CEO DyCode, mas Andri Yadi mengungkapkan bahwa jika seseorang membangun startup dengan tujuan ingin memiliki banyak uang, dikenal dan bisa santai maka itulah jebakan yang fatal. CEO asal Belitong ini bercerita bahwa sesungguhnya founder startup harus siap terus bekerja, beresiko tidak memiliki uang dan ditinggalkan oleh karyawan bahkan teman founder. Selama 13 tahun berkarir, mas Andri yang dulunya mendirikan startup digital bersama beberapa orang pernah akhirnya sendirian membesarkan usahanya sebelum kini kembali dibantu beberapa orang founder di lini startup digital yang baru. Membangun startup digital memang memberikan kesempatan untuk mengubah dunia, berbagi pada sesama, mendapatkan uang, memperoleh penghargaan dan pengakuan namun anggaplah itu bonus. Pahamilah bahwa harus ada pola pikir yang benar dan kerja keras dibalik keberhasilan startup, demikian pesan mas Andri.


Gojek, siapa yang tidak tahu dengan aplikasi moda transportasi yang sempat menggegerkan masyarakat ini. Alamanda Shantika, Vice President Gojek ini bercerita bahwa Gojek berawal dari keprihatinan akan masalah kemacetan dan sulitnya mencari moda tranportasi umum yang cepat namun nyaman. Startup yang kini sudah mempekerjakan kurang lebih 250ribu orang dan merambah ke berbagai layanan lain seperti Go-CAR, GO-CLEAN, GO-MASSAGE dan sebagainya ini juga diluncurkan setelah melihat permasalahan lain yang perlu solusi. Reblood, aplikasi yang bergerak di bidang kesehatan, khususnya tentang donor darah ini pun dibangun oleh Leonika karena melihat kasus kurangnya stok darah di PMI. Dengan adanya sistem aplikasi yang mengingatkan jadwal rutin donor darah para pendonor, harapannya ketersediaan darah di PMI bisa mencukupi. Seperti halnya founder KitaBisa.com, Alfatih Tmur yang dulunya seorang aktivitis memahami sulitnya menggalang dana karena tidak ada transparasi yang membuat orang percaya untuk berdonasi. Melalui KitaBisa.com, orang yang berdonasi bisa memantau secara langsung.

Owner Own Games, Edwin Virlya  dan founder Kakatu, mas  Muhamad Nur Awaludin mengungkapkan bahwa suatu ide terkadang tidak langsung diterima oleh masyarakat. Tak terhitung berapa banyak games yang sudah diciptakan oleh OWN Games namun tidak laku sampai akhirnya mas Edwin ditinggalkan oleh teman foundernya. Namun mas Edwin tak putus akal hingga kemudian menciptakan games Tahu Bulat yang terinspirasi oleh pedagang makanan keliling dan akhirnya booming. Dicecar konsumen juga pernah dialami oleh mas Awaludin saat mengembangkan Kakatu, aplikasi yang bisa mengontrol penggunaan smartphone bagi anak-anak. Namun dari keluhan konsumen tersebutlah aplikasi KAKATU bisa dikembangkan agar bisa lebih memuaskan konsumen.

Kegagalan sudah menjadi bagian dari perjalanan mengembangkan startup. Mas Frida Dwi Iswantoro, Co-founder Agate Jogja dan mas Hiro Wardhana, CEO CODEinc bercerita bahwa  ditinggal founder lain dan kehabisan modal adalah dua hal yang paling banyak ditemui oleh para founder. Namun bukan berarti hal tersebut bisa memataskan semangat. Jika dimaknai bahwa kegagalan adalah sebuah pembelajaran, kenangan dan pengalaman maka bisa menjadi acuan untuk berkarya dengan lebih baik lagi.

Hal yang terpenting agar startup bisa berumur panjang adalah founder harus mengetahui sumber pemasukan yang akan didapat. Meskipun startup dibangun untuk memberikan solusi atas permasalahan, namun tentu sebagian besar bukanlah lembaga sosial. Seperti halnya mas Aria Rajasa, Founder Tees.co.id yang berkali-kali gagal membangun startup namun akhirnya berhasil setelah mengetahui bahwa jualan adalah cara tercepat untuk mendapatkan pemasukan untuk membiayai operasional. Demikian pula kisah mas Irwan Kartadipura yang membangun INDOCPA setelah melihat bisnis yang sama di luar negeri yang memiliki pasar dan berpotensi memberikan peluang penghasilan.

4 komentar:

  1. Kegagalan justru menjadi cambuk utk membuat karya yg jauh lbh bagus ya mbak. Tks infonya😊

    BalasHapus
  2. Sukses instant itu gak ada kali ya. Apalagi utk bisnis. Pasti merasakan jatuh bangun.
    Start up punya Mba Fenny apa nih? Kenalin dong.

    BalasHapus
  3. Wah, pengalaman mereka bisa dijadikan pelajaran. Jangan menyerah pokoknya :D

    BalasHapus
  4. untuk sukses dan setelah sukses memang tidak bisa ongkang2 kaki karena banyak hal yang harus di kerjakan dan di perbaiki terus. saya kudet masalah start up tapinya hehehe

    BalasHapus

Mohon maaf komentar dimoderasi untuk mengurangi SPAM. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN :)

Follow Us @soratemplates